Ketika Guru dan Siswa Mengejar Popularitas, Siapa yang Menjaga Martabat Pendidikan?
Ketika Guru dan Siswa Lebih Sibuk Joget TikTok daripada Mengembangkan Intelektualitas: Sebuah Refleksi Pendidikan di Era Digital
Oleh: Nailah Nur Azizah Miranda
Pendahuluan
Era digital telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan. Media sosial seperti TikTok menjadi salah satu platform yang paling populer di kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Kehadirannya tidak dapat dipungkiri memberikan ruang bagi kreativitas, hiburan, bahkan media pembelajaran yang inovatif.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, muncul fenomena yang patut menjadi perhatian bersama. Tidak sedikit guru dan siswa yang justru lebih dikenal melalui konten joget dan hiburan di media sosial dibandingkan prestasi akademik, kemampuan berpikir kritis, maupun karya-karya intelektual yang dihasilkan. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian konten yang ditampilkan memperlihatkan gerakan-gerakan yang kurang pantas dan tidak sesuai dengan etika kesopanan, terutama ketika dilakukan oleh individu yang menyandang status sebagai pendidik dan peserta didik.
Fenomena ini bukan persoalan sederhana tentang seseorang yang menari atau mengikuti tren digital. Persoalan yang sesungguhnya adalah ketika budaya pencarian popularitas mulai menggeser budaya belajar, budaya membaca, dan budaya berpikir. Dunia pendidikan berpotensi kehilangan orientasi apabila pengakuan di media sosial dianggap lebih penting daripada pengembangan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter.
Pendidikan dan Martabat Ilmu dalam Perspektif Agama
Dalam ajaran Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa terkenal dirinya di hadapan manusia, melainkan oleh kualitas iman, ilmu, dan amal yang dimilikinya. Allah SWT. berfirman:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara mu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11).
Ayat tersebut menegaskan bahwa pendidikan pada hakikatnya bertujuan membentuk manusia yang berilmu dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, guru dan siswa semestinya menjadikan proses belajar sebagai prioritas utama dalam kehidupan mereka.
Media sosial sebenarnya dapat menjadi sarana dakwah, edukasi, dan penyebaran ilmu pengetahuan. Akan tetapi, ketika media sosial hanya digunakan untuk mengejar perhatian publik melalui konten-konten hiburan yang berlebihan, apalagi sampai menampilkan gerakan yang kurang sopan dan tidak mencerminkan nilai kesantunan, maka fungsi pendidikan dan nilai-nilai moral yang seharusnya dijunjung tinggi mulai mengalami pergeseran.
Guru bukan hanya pengajar, melainkan teladan moral bagi peserta didik. Setiap tindakan yang ditampilkan di ruang publik, termasuk di media sosial, akan menjadi contoh yang dapat ditiru oleh siswa. Karena itu, kebebasan berekspresi di era digital tetap harus dibingkai oleh etika, tanggung jawab, dan kesadaran akan peran sosial yang diemban.
Dampak Psikologis: Ketika Validasi Mengalahkan Prestasi
Fenomena joget di media sosial juga dapat dipahami dari sudut pandang psikologis. Di era digital, banyak individu memperoleh kepuasan emosional melalui jumlah tayangan, tanda suka, komentar, dan jumlah pengikut yang dimiliki.
Perlahan, muncul kecenderungan untuk mengukur nilai diri berdasarkan popularitas di dunia maya. Akibatnya, banyak orang lebih terdorong menghasilkan konten yang mudah viral daripada membangun kemampuan intelektual yang membutuhkan proses panjang dan konsisten.
Kondisi ini berpotensi membentuk pola pikir instan. Belajar, membaca buku, melakukan penelitian, atau menulis karya ilmiah dianggap tidak menarik karena tidak memberikan pengakuan secepat konten hiburan di media sosial.
Padahal, pendidikan yang sesungguhnya dibangun melalui proses yang panjang, disiplin, dan kesungguhan. Seseorang mungkin dapat menjadi terkenal hanya dalam hitungan hari karena sebuah video, tetapi tidak mungkin menjadi pribadi yang berilmu, bijaksana, dan profesional tanpa melalui proses pembelajaran yang serius.
Perspektif Sosial: Pergeseran Makna Keteladanan
Dalam kehidupan bermasyarakat, guru memiliki kedudukan yang istimewa. Profesi guru selama ini dipandang sebagai simbol pengetahuan, kebijaksanaan, dan keteladanan.
Ketika seorang guru lebih dikenal karena konten joget yang tidak mendidik daripada kompetensi dan prestasinya, maka citra profesi pendidik sedikit demi sedikit mengalami pergeseran. Guru yang seharusnya menjadi inspirasi dalam bidang keilmuan dapat dipersepsikan hanya sebagai figur hiburan di media sosial.
Fenomena ini juga memberikan pengaruh yang besar terhadap peserta didik. Siswa dapat membangun pemahaman yang keliru bahwa menjadi terkenal lebih penting daripada menjadi cerdas, bahwa viral lebih bernilai daripada berprestasi, dan bahwa eksistensi digital lebih utama dibandingkan proses belajar.
Jika kondisi ini terus berlangsung, maka dunia pendidikan berisiko melahirkan generasi yang aktif di media sosial tetapi lemah dalam literasi, mudah mencari perhatian tetapi miskin kemampuan berpikir kritis, serta memiliki banyak pengikut di dunia maya tetapi minim kontribusi nyata bagi masyarakat.
Perspektif Budaya: Menjaga Kesantunan di Tengah Modernitas
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai kesopanan, etika, dan penghormatan terhadap profesi guru. Dalam budaya Indonesia, guru dipandang sebagai sosok yang dihormati karena perannya dalam membentuk peradaban bangsa.
Perkembangan teknologi dan budaya digital tidak seharusnya menghapus identitas tersebut. Mengikuti tren dan perkembangan zaman merupakan hal yang wajar, namun kebebasan berekspresi tetap perlu diimbangi dengan kesadaran etis dan penghormatan terhadap norma sosial yang berlaku.
Ketika konten-konten yang kurang pantas dan tidak mencerminkan kesantunan justru dianggap sebagai sesuatu yang biasa, maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan proses pengikisan nilai budaya secara perlahan. Pendidikan yang seharusnya menjadi benteng pembentukan karakter justru berpotensi menjadi ruang yang kehilangan arah dan identitasnya.
Penutup: Pendidikan Harus Tetap Berorientasi pada Ilmu dan Karakter
TikTok dan berbagai media sosial lainnya bukanlah ancaman bagi dunia pendidikan. Sebaliknya, platform digital dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, berbagi inspirasi, dan meningkatkan kreativitas apabila digunakan secara bijaksana.
Namun, kita perlu melakukan refleksi bersama ketika guru dan siswa lebih banyak menghabiskan waktu mengejar popularitas melalui konten-konten hiburan daripada mengembangkan kualitas intelektual dan karakter diri. Lebih jauh lagi, konten yang mengabaikan etika dan kesopanan tidak hanya berdampak pada citra pribadi, tetapi juga memengaruhi wibawa pendidikan dan nilai-nilai budaya yang selama ini dijunjung tinggi.
Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa sering guru dan siswa tampil mengikuti tren di media sosial, melainkan oleh seberapa kuat mereka membangun tradisi berpikir, budaya membaca, kedalaman ilmu, dan keteladanan akhlak. Popularitas bersifat sementara, tetapi ilmu, karakter, dan integritas adalah fondasi yang akan menentukan kualitas sebuah peradaban.

.jpg)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar